Aku memilih untuk mencintai mu
dalam diam, saat aku menyadari ada yang yang lain dalam hati ku. Saat rasa itu
tiba-tiba menyeruak di dalam hati ku, tanpa bisa ku cegah.
Sejak semua berubah.
Sejak...
Senyum mu mampu membuat ku
terbang meski tanpa sayap...
Tatapan matamu mampu membuat ku tenggelam dalam dalamnya
sorot matamu...
Harum tubuh mu mampu memabukan
indera penciuman ku...
Sentuhan tangan mu mampu melumpuhkan sendi-sendi di tubuh ku...
Sejak aku tak lagi dapat mencegah
hati ku untuk tidak merindukan mu, saat dirimu tak dapat terjamah oleh indera
pengelihatan ku...
Aku lebih memilih untuk
mencintaimu diam-diam, karena aku takut kamu menjauhi ku karena perasaan yang
aku sendiri tidak tau kapan mulai tumbuh di hati ku..
Aku takut kehilangan mu. Bahkan sangat
takut...
Aku memilih untuk mencintaimu
diam-diam, karena kamu lebih memilih berteman daripada menjalin suatu hubungan yang akan berakhir
nantinya.
Kamu tau ? Entah mengapa ada rasa sesak di hati ku saat
kamu mengucapkan kalimat penolakan itu secara tidak langsung..
Tapi, rasa sesak itu tidak lebih
sesak seperti saat aku melihat mu dengan gadis itu. Gadis yang kau klaim
sebagai “GADISMU”...
Dan sampai saat ini aku (masih)
memilih untuk mencintaimu diam-diam...
Memperhatikan mu dari jauh..
Mencari kabar tentang mu melalui
akun jejaring social milik mu..
Membawa nama mu dalam percakapan
ku bersama Tuhan..
Dan Mendo’akan kebahagian mu di
setiap sujud ku..
Memperhatikan mu...
Merindukan mu...
Mengharapkan mu...
Mendoakan mu...
Mencintai mu..
Bahkan menangis karena mu pun aku
lakukan secara DIAM-DIAM..
Tenang saja, sayang. Aku tak akan
menyalakhan mu..
Ini adalah konsekuensi yang harus
aku terima atas semua pilihan ku...
Aku yang terlalu takut kehilangan
mu..
Aku yang terlalu pengecut,
sehingga memilih untuk mencintai mu DIAM-DIAM....
Untuk mu yang jauh disana...
Aku. Pengecut yang dengan lancang
mencintaimu diam-diam :’)
DRP